Minggu, 15 Juni 2014

Jokowi for President

 

Wow… sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini…Sudah lebih dari setengah tahun lamanya terhitung sejak 30 November 2013.. hee..

Oke.. Pada kesempatan kali ini, karena situasi politik di negara kita sedang hangat2nya menyambut pesta demokrasi Pemilu Presiden yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 nanti, saya ingin memberikan sumbangsih tulisan berupa dukungan kepada salah satu pasangan capres-cawapres yang saya anggap paling layak untuk memimpin bangsa Indonesia, yaitu pasangan capres-cawapres Jokowi-JK. Namun di tulisan ini saya akan lebih fokus untuk membahas persaingan sosok capresnya saja, yaitu antara capres dengan nomor urut 1; Prabowo, dengan capres dengan nomor urut 2; Jokowi.

Sebelumnya, saya harap para pembaca dan seluruh rakyat Indonesia yang memiliki hak untuk memilih nantinya untuk tidak memilih sikap “golput” ketika hari pencoblosan. Hal itu kita lakukan sebagai wujud kepedulian kita terhadap nasib bangsa ini ke depan. Nasib bangsa ini benar-benar ada di tangan kita. Golput tidak akan membawa manfaat apapun bagi negeri ini, karena dengan golput sebanyak apapun, salah satu dari calon presiden tetap akan menjadi presiden bagi kita semua. Bayangkan, hidup kita selama 5 tahun ke depan secara garis besar akan tergantung dari kebijakan2 presiden yang terpilih nantinya. Sungguh celaka jika presiden yang terpilih nantinya adalah presiden yang tidak memiliki hati dan niat yang baik. Oleh karenanya, lebih baik kita memilih yang terbaik dari yang ada agar negara ini dapat dipegang oleh orang yang tepat.

Ingat, golput tidak akan menyelesaikan masalah. Golput juga tidak akan mampu merubah keputusan terpilihnya seorang Presiden nantinya. Gunakan semaksimal mungkin sarana (Pemilu) yang ada sekarang ini untuk menentukan nasib bangsa Indonesia. Banyak orang yang golput karena pesimis dan terlalu idealis. Idealistis itu bagus dan baik, tetapi juga harus diimbangi dengan sikap yang realistis. Kalau tidak ada nasi, ya makan tiwul! Jangan hanya karena tidak ada nasi lalu memilih untuk tidak makan apa-apa. Itu manja dan konyol namanya.

Tetaplah tentukan pilihan walaupun tidak ada calon presiden yang dianggap sempurna. Lagipula, bukankah memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini? Walaupun kandidat presiden yang ada memang bukan manusia yang sempurna (yang katanya kesempurnaan hanya milik Tuhan), kita harus memilih capres yang terbaik dari yang ada. Pilihlah capres yang memiliki rekam jejak yang baik dan “ketidaksempurnaan perilaku” yang minim. Jangan sampai memilih capres hanya karena janji2 kampanye dan kata-kata manis yang diucapkan. Fakta berbicara bahwa banyak politikus yang mampu dan ahli dalam berbicara, namun nihil/minim dalam mengimplementasikan ucapan/janji2 politiknya. Kita harus mengecek janji2 dan kata-kata manis tersebut dari rekam jejaknya selama ini, apakah apa yang dijanjikan sinkron dengan pola pikir dan sikap2nya selama ini atau tidak.

“Selain itu, Anies juga tidak yakin untuk memilih Prabowo karena sudah terlalu banyak bicara visi dan misi selama lima tahun terakhir. "Buat saya itu malah justru membuat saya makin yakin untuk tidak memilih orang yang sudah lima tahun menghabiskan uang enggak tahu berapa jumlahnya selama lima tahun berturut-turut, beriklan, untuk sebuah posisi, seakan-akan hidup itu hanya untuk jadi presiden," paparnya.” (sumber)

Dan janganlah memilih capres dengan cara “gambling” seperti halnya orang berjudi. Contohnya adalah kita sama sekali belum memiliki informasi rekam jejak atau bukti sedikitpun tentang bagaimana cara Prabowo memimpin suatu rakyat dalam lingkup pemerintahan yang kecil (entah menjadi seorang walikota, bupati, camat, gubernur, dll.). Karir kepemimpinannya murni hanya ada di dalam lingkup kemiliteran dan keluarga. Dan ironisnya, karirnya itupun harus berakhir dengan pemecatan karena kasus kriminal (sumber1 & sumber2) dan rumah tangganya juga harus berakhir dengan perceraian. Prabowo jelas belum pernah berkarir sebagai petugas pemerintahan sama sekali, ini sangat berbeda dengan Jokowi yang telah memiliki banyak pengalaman di dalam dunia pemerintahan. Dan bahkan tidak hanya itu, selama karir pemerintahannya, Jokowi telah meraih banyak prestasi dan penghargaan (sumber1 & sumber2).

Apa yang Prabowo suarakan dan janjikan mungkin memang terdengar indah di telinga, tetapi Prabowo belum memiliki satu rekam jejakpun dalam kiprah pemerintahan di masyarakat ini untuk kita jadikan sebagai bahan penilaian dan pertimbangan. Jika kita memilih seorang capres hanya karena ucapannya saja (bukan berdasarkan rekam jejak), bukankah sama saja kita mengulangi kesalahan2 yang lalu (tertipu oleh ucapan2 manis politikus)?

Tetapi apakah ucapan seorang capres benar atau tidak tentu saja bukan di situ poin permasalahan intinya. Kenapa? Jelas karena kita tidak bisa membuktikan ucapan mereka benar-benar diwujudkan atau tidak sebelum mereka benar-benar menjadi presiden. Maka, poin terpentingnya adalah; ada tidaknya “rekam jejak” yang dapat kita jadikan sebagai bahan pertimbangan dan penilaian. Ini diibaratkan seperti pepatah; “jangan membeli kucing di dalam karung”. Bagaimana mungkin kita mau membeli kucing di dalam “karung yang berkemasan baik”, sedangkan di sampingnya ada kucing yang tidak terbungkus di dalam karung namun memiliki kualitas yang benar-benar baik (dapat diamati dan dibuktikan secara langsung)? Saya kira hanya orang bodoh yang akan membeli kucing dalam karung hanya karena penampakan karung pembungkusnya yang menarik hati dan lalu mengabaikan minimnya informasi tentang kualitas kucing yang terbungkus di dalam karung tersebut. Apalagi dengan mengabaikan beberapa informasi yang tersebar selama ini bahwa kucing di dalam karung tersebut memiliki kualitas yang jelek. Berhati-hatilah jika kita melakukan hal tersebut. Berhati-hatilah.. Resikonya sangat besar. Kita bisa tertipu..

Lalu, kenapa saya memilih Jokowi? Sudah jelas. Jokowi memiliki rekam jejak yang sangat banyak dan sangat baik di masa kepemimpinannya selama ini. Ibaratnya, saya tidak sedang membeli kucing di dalam karung. Jokowi ibarat kucing yang sudah terbukti memiliki kualitas yang baik dan tidak terbungkus di dalam karung. Selain itu, yang terutama adalah Jokowi memiliki sikap yang tegas dalam memimpin. Ketegasan tidak bisa dinilai dari pembawaan Jokowi yang santai dan terlihat kurang berwibawa. Dibalik sikapnya yang “easy going”, Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat tegas. Jokowi tidak segan untuk memecat orang yang tidak berkompeten dan bermasalah (sumber). Ketegasannya juga terlihat bagaimana Jokowi bersikukuh untuk mempertahankan Lurah Susan di Lenteng Agung walaupun ada pihak masyarakat yang menentang keputusan Jokowi (sumber). Ketegasan lain yang ditunjukkan Jokowi juga bisa kita lihat dari bagaimana sikap Jokowi yang dengan tegas menolak koalisi transaksional sehingga Partai Golkar tidak jadi merapat ke PDI-P (sumber1, sumber2, sumber3).

Lalu kenapa saya tidak memilih Prabowo? Selain sosok Prabowo masih banyak menyisakan misteri yang belum terungkap dan rekam jejaknya yang tidak baik, banyak sikap dan kata-kata Prabowo yang tidak cocok dengan hati dan pikiran saya. Contohnya adalah sebagai berikut:

1. Menghalalkan koalisi transaksional (bagi2 kekuasaan & jabatan).

Sudah kita ketahui bahwa Partai Golkar tidak jadi merapat ke PDI-P karena partai bergambar pohon beringin tersebut menginginkan koalisi bagi-bagi kekuasaan/kursi (sumber1). Sehingga sudah jelas kenapa Partai Golkar (setelah ditolak PDI-P) akhirnya merapat ke Partai Gerindra. Ini logika yang sangat mudah. Bahkan tidak hanya itu saja, Prabowo bahkan menjanjikan suatu kedudukan kepada Aburizal Bakrie sebagai “menteri utama” (sumber). Suatu kedudukan yang diada-adakan hanya untuk memperoleh dukungan dan bahkan bertentangan dengan konstitusi (sumber). Di sini kita bisa melihat bagaimana ambisiusnya Prabowo untuk menjadi Presiden dengan menghalalkan berbagai cara. Terlihat juga sikap ketidaktegasan Prabowo yang tidak bisa menolak partai yang ingin bekerja sama dengan cara bagi-bagi kekuasaan. Apakah ini yang dinamakan ketegasan? Saya kira tidak. Jokowi terbukti lebih tegas daripada Prabowo. Jokowi memiliki ketegasan untuk menolak hal-hal yang tidak baik.

Apakah hanya Aburizal Bakrie yang ditawari posisi jabatan menteri oleh Prabowo? Ternyata tidak juga. Untuk mengejar ambisinya menjadi presiden, Prabowo juga menawarkan sebuah posisi menteri kepada Mahfud MD agar mau menjadi Ketua Tim Suksesnya (sumber). Mahfud MD adalah salah satu orang yang dikecewakan oleh Partai PKB (yang berkoalisi dengan PDI-P untuk mendukung pasangan Jokowi-JK) karena dia tidak jadi dipilih sebagai cawapres Jokowi (sumber1, sumber2). Yang juga menjadi keanehan dan pertanyaan adalah terungkapnya kegalauan Mahfud MD sebelum menerima tawaran Prabowo (sumber). Seakan-akan ada hal yang bertentangan dengan hati nuraninya namun dipaksakan. Ini berbeda sekali dengan sikap Anis Baswedan yang dengan mudah dan tanpa beban untuk menerima pinangan dari kubu Jokowi-JK untuk menjadi salah satu tim suksesnya (sumber youtube).

2. Tidak mendukung proses pemberantasan korupsi oleh KPK.

Sebelum Mahfud MD ditunjuk sebagai Ketua Tim Pemenangan Prabowo, Suryadharma Ali adalah yang memegang posisi tersebut. Namun naas, tidak terlalu lama, Suryadharma Ali ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka korupsi dana haji (sumber1, sumber2). Namun apa reaksi Prabowo menanggapi kenyataan tersebut? Ini yang mengecewakan. Prabowo justru mengkritik sikap KPK hanya karena unsur perasannya meyakini SDA tidak mungkin berbuat korupsi (sumber1, sumber2). Prabowo tidak legowo dan tidak bersikap gentle untuk mengatakan dan mengakui kesalahan bahwa orang yang ada di belakangnya ternyata adalah orang bermasalah. Terbukti Prabowo tidak pernah belajar dari sejarah bahwa Kementrian Agama pernah menjadi Kementrian Terkorup di Indonesia. Pertanyaannya, dimana ketegasan Prabowo dalam memberantas korupsi? Bagaimana nasib bangsa Indonesia ini jika dipimpin oleh pemimpin yang tidak bisa menindak tegas kasus korupsi yang dilakukan orang dekat/koleganya sendiri?

3. Merangkul ormas kekerasan seperti FPI.

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa FPI adalah salah satu ormas agama yang paling sering melakukan tindak kekerasan dan menodai kerukunan hidup antar umat beragama di negeri ini (sumber1). Namun ironisnya, ormas bermasalah semacam ini justru dirangkul oleh Prabowo (sumber1, sumber2, sumber3). Namun berbeda halnya dengan apa yang dilakukan oleh Jokowi. Jokowi dengan jelas mengatakan bahwa dia adalah bagian dari Islam yang merupakan Rahmat bagi alam semesta (sumber).

4. Menunda gaji karyawan PT.KIANI Kertas selama 5 bulan

Bagaimana bisa kita percaya bahwa Prabowo serius memperhatikan nasib para buruh jika pekerjanya sendiri tidak diperhatikan hak-haknya selama 5 bulan??.. (sumber1, sumber2) Bayangkan mewahnya kehidupan Prabowo; memiliki dan memelihara kuda senilai milyaran rupiah (sumber1, sumber2, sumber3), pergi kemana-mana menggunakan helikopter (sumber1, sumber2, sumber3), mengeluarkan dana kampanye hingga milyar-an rupiah, dsb. Bagaimana mungkin dia tega hidup bermewah-mewahan seperti itu diatas kesengsaraan nasib pekerjanya sendiri yang harus rela tidak menerima gaji selama 5 bulan? Jika anda percaya Prabowo pro nasib buruh, itu adalah suatu kekonyolan dan kebodohan.

5. Memberantas korupsi dengan menaikkan gaji pejabat?..

Dalam debat capres-cawapres yang diadakan pada hari Senin, tanggal 9 Juni 2014 yang lalu, Prabowo mengatakan bahwa solusi untuk mencegah terjadinya korupsi di pemerintahan adalah dengan cara menaikkan gaji pejabat (sumber1, sumber2, sumber3). Ini sungguh solusi yang tidak cerdas. Apakah Prabowo tidak melihat bahwa pejabat-pejabat yang melakukan korupsi adalah pejabat-pejabat yang justru sudah memiliki kehidupan yang mewah? Sebut saja Gayus Tambunan, mantan Ketua MK Akil Mochtar, Angelina Sondakh, dll. Apakah mereka miskin? TIDAK! Korupsi terjadi karena mental yang lemah dan gaya hidup yang berlebihan.

6. Ketampanan dan kecantikan menentukan kewibawaan polisi.

(sumber1, sumber2). Pola pikir sampah macam mana lagi ini? Saya heran, apakah hanya secetek itu kemampuan Prabowo dalam menganalisa suatu permasalahan? Perlu anda tahu Prabowo, polisi disepelekan selama ini karena polisi dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik, sering tidak tegas dalam mengusut kejahatan dan juga bermain uang dalam menangani kasus!

7. Sering melakukan cara tidak benar dan kampanye hitam kepada kubu Jokowi.

Menaikkan citra Prabowo dengan merekayasa data: Sumber1, sumber2.

Memfitnah: Sumber1, Sumber2, Sumber3, Sumber4, dll.

8. Dll.

Saya percaya Tuhan selalu memberikan petunjuk melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dan kejadian alam. Maka, jika kita amati, sejak awal berkoalisi, kubu Prabowo sudah menunjukkan banyak kesan/tanda-tanda negatif dan bermasalah. Seperti Ketua Tim Pemenangan Prabowo, Suryadharma Ali yang terjerat kasus korupsi dana haji, koalisi transaksional dengan mengiming-imingi jabatan yang belum pernah ada sebelumnya di pemerintahan demi memperoleh dukungan, nama calon capres dan cawapres yang disingkat menjadi nama yang berkonotasi negatif; “Pra-HaRa”, bersitegang tentang uang (sumber), banyaknya kampanye hitam (cara-cara licik dan picik) yang dilakukan oleh pendukung Prabowo kepada kubu Jokowi, dll. Percaya atau tidak, hal- hal ini adalah pertanda dari Tuhan bahwa pasangan Prabowo-Hatta akan memiliki pengaruh yang tidak baik bagi bangsa Indonesia ke depannya.

Berikut adalah situs2 yang layak untuk dibaca untuk memperkuat keyakinan anda dalam mendukung Jokowi-JK:

1. ANALISA TULISAN DAN TANDA TANGAN JOKO WIDODO (JOKOWI)

2. MENIMBANG CAPRES INDONESIA 2014 DALAM PERSPEKTIF GRAFOLOGI (ANALISIS 3 : DILIHAT DARI HURUF "a")

3. Prabowo Kembali Sesali Batal Kudeta Habibie

4. Dipimpin Jokowi, Pendapatan DKI Naik Rp 31 Triliun dalam Setahun

Jokowi memang tidak sempurna. Tapi saya yakin Jokowi adalah orang yang lebih pantas dan lebih baik untuk memimpin negeri ini dibandingkan Prabowo. Atas pertimbangan yang sangat rasional di atas, saya dengan tegas dan bulat mendukung pasangan Capres-Cawapres Jokowi-JK untuk dapat menjadi Presiden RI selanjutnya! MERDEKA!! :-)

Sabtu, 30 November 2013

Verify Analysis vs Design Section

 

Setelah selesai merunning dan mendesain struktur baja dengan Sap2000 pastinya kita ingin mengetahui secara cepat apakah semua dimensi elemen struktur yang telah kita tentukan masih masuk dalam kondisi aman atau tidak. Hal ini bisa kita ketahui dengan cara mengecek nilai stress ratio-nya, yaitu nilai perbandingan antara gaya dalam ultimate (hasil beban kombinasi maksimum yang bekerja membebani bangunan) dengan kuat ijin masing-masing profilnya. Bila stress ratio kurang dari 1 (atau tergantung dari batas limit yang bisa kita tentukan sendiri tetapi disarankan nilainya tetap kurang dari 1) maka elemen struktur masih dalam kategori aman, tetapi jika lebih besar dari angka 1 maka kategorinya menjadi tidak aman, alias kita perlu mengganti batang profil tersebut dengan penampang profil yang lebih kuat.

Untuk memunculkan nilai stress ratio pada layar, setelah dilakukan proses “design” maka selanjutnya bisa dengan meng-klik: Design –> Steel frame design –> Display Design Info.. –> Design Input –> P-M Ratio Colors & Values. Terlihat ada beberapa macam pilihan design output, kita bisa memilih salah satu untuk menampilkan data-data output yang kita inginkan tampil pada layar.

2013-11-27_212504

2013-11-27_213332

Setelah melakukan langkah di atas, maka nilai stress ratio tiap batang akan ditampilkan seperti pada tampak screen capture berikut (permodelan di bawah hanya contoh dengan memperhitungkan beban mati sendiri saja):

2013-11-27_232322

Nilai stress ratio yang ditampilkan pada gambar di atas adalah nilai stress ratio kumulatif dari unsur P (axial) dan M (momen), baik untuk sumbu lemah maupun sumbu kuatnya. Sedangkan nilai stress ratio untuk geser (baik untuk sumbu major dan minor) terpisah dari nilai stres rasio P-M atau dengan kata lain tidak ikut dijumlahkan. Sehingga suatu batang struktur bisa saja memiliki nilai P-M ratio yang masih dalam kategori aman (nilainya kurang dari 1) namun ternyata masuk dalam kategori fail jika stress ratio untuk gesernya lebih dari 1.

Untuk mengecek penyebab utama kegagalan suatu batang profil (apakah lebih disebabkan oleh gaya aksial, gaya momen, atau gaya geser), maka kita perlu melihat lebih jauh ke dalam detail informasi output pada tiap batangnya. Caranya adalah cukup dengan meng-klik kanan suatu batang (dalam kondisi tampilan stress ratio sedang aktif). Maka akan keluar informasi data yang cukup lengkap mengenai hasil stress ratio suatu batang profil seperti di bawah.

2013-11-30_114503

Secara default, Sap2000 akan memperhitungkan gaya-gaya dalam batang yang terjadi pada lokasi tiap per 0.5 m panjang (maksimum). Jika panjang elemen 2 m, maka Sap2000 akan mendesain elemen struktur berdasarkan hasil gaya dalam di 5 titik (5 = (2 m/0.5 m)+1), yaitu pada titik di lokasi 0 m (ujung bentang awal), 0.5 m, 1 m, 1.5 m, dan 2 m (ujung bentang akhir).

Bagaimana jika panjang elemen tidak genap kelipatan 0.5 m, misalkan 5.25 m? Maka Sap2000 akan menganalisis tiap gaya yang terjadi di titik batang dengan kelipatan per = 5.25 m / (Roundup(5.25 m / 0.5 m)) = 5.25 m / 11 = 0.477 m. Pada window “Steel Strees Check Information” di atas titik2 ini ditunjukkan pada kolom “STATION LOC”.

Jika diamati, terlihat bahwa penyumbang nilai stress ratio terbesar akibat beban kombinasi 1 (DSTL 1) pada batang no 9 ada pada nilai B-MAJ-nya (0.044). Ini berarti gaya yang dominan bekerja pada elemen tersebut adalah gaya momen pada arah sumbu kuat-nya. Sehingga jika pun ingin dilakukan perkuatan (jika stress ratio yang terjadi cukup besar), dapat dilakukan dengan cara2 yang efektif (karena kita mengetahui inti permasalahannya ada di mana). Jadi, sebelum melakukan perkuatan atau penggantian elemen struktur, usahakan untuk mengecek bagian ini terlebih dahulu untuk mengidentifikasi sumber kegagalan.

Bila data di atas dirasakan tidak cukup lengkap, kita dapat mendapatkan informasi yang lebih detail dengan cara meng-klik tombol “Details” pada box “Display Details for Selected Items”.

2013-11-30_212110

Tombol ini akan menyajikan data-data yang lebih detail seperti terlihat pada capture layar di bawah:

2013-11-30_192859

Wow… Lengkap sekali ya.. :-) Bisa dibilang semua data hasil output desain yang menarik untuk diketahui dapat kita peroleh di sini. Dan ternyata baru terlihat bahwa Sap2000 memberikan pesan “warning” untuk elemen frame no 9 ini, yaitu berupa peringatan bahwa nilai kl/r > 200.

Waduh, kalo gitu gmana dong mas? Padahal stress ratio-nya kecil banget lho.. Perlu diperkuat gak tuh?

Tenang saja.. warning tersebut (kl/r < 200 = syarat kelangsingan kolom) perlu kita perhatikan dengan serius jika elemen yang kita tinjau adalah berupa elemen kolom atau balok yang memiliki gaya axial tekan yang cukup besar (untuk menghindari bahaya buckling). Untuk elemen balok murni, batas kelangsingannya tidak sekecil itu, batas nilai kelangsingannya bisa lebih “lega”.. yaitu: l/r < 300. Perhatikan, nilai l di sini tanpa perlu dikalikan dengan nilai k (faktor panjang efektif).

Dan jika ternyata profil yang kita tentukan tidak cukup kuat menahan beban yang terjadi (stress ratio > 1), maka kita dapat mengubah profil elemen secara langsung pada window “Steel Stress Check Information” (tanpa harus meng-unlock model), yaitu dengan meng-klik tombol “overwrites” pada box “Modify/Show Overwrites”.

2013-11-30_202659

Selanjutnya akan keluar window seperti berikut:

2013-11-30_212051

Klik pada item “Current Design Section” dan pilih profil yang diinginkan. Maka Sap2000 secara cepat akan mengganti profil lama dengan profil baru dan sekaligus menghitung keamanannya berdasarkan gaya dalam hasil analysis awal.

Yang perlu diingat adalah akibat perubahan profil ini sebenarnya hasil gaya dalam analysis awal sudah tidak berlaku lagi alias sudah tidak valid. Dengan kata lain, kita perlu melakukan analysis ulang untuk memperoleh gaya dalam yang benar yang telah mengakomodir perubahan profil. Apalagi jika kita mendesain struktur dengan menggunakan “Auto Select List” dimana Sap2000 akan memilihkan profil2 yang paling ekonomis untuk kita, maka kadang kita perlu melakukan berkali-kali analysis untuk menghasilkan output desain yang benar.

Untuk mengecek apakah hasil analysis sudah sinkron dengan profil hasil design dengan cepat, kita dapat melakukannya dengan cara meng-klik: Design –> Steel frame design –> Verify analysis vs Design Section.

2013-11-30_212653

Jika ok, maka Sap2000 akan memberikan pesan seperti berikut:

2013-11-30_212843

Dan jika tidak ok, Sap2000 akan memberikan pesan seperti berikut:

2013-11-30_213026

Klik “Yes” jika kita ingin mengetahui batang mana yang perlu direvisi.

Setelah hasil analysis dan design sinkron, selanjutnya cek stress ratio-nya. Untuk melakukan tujuan ini dengan cepat, dapat kita lakukan dengan cara meng-klik: Design –> Steel frame design –> Verify all Member Passed.

2013-11-27_211901

Jika semua batang dalam kondisi aman, maka akan keluar pesan seperti di bawah:

2013-11-27_211928

Tetapi jika ada satu atau beberapa batang yang fail, maka akan keluar pesan seperti berikut:

2013-11-27_232444

Terlihat Sap2000 secara otomatis akan menemukan batang yang fail dan menawarkan pilihan kepada kita apakah batang yang fail tersebut akan kita pilih (seleksi) atau tidak. Fitur ini sangat membantu terutama ketika kita sedang mencoba mendesain struktur baja yang cukup besar dan sangat kompleks dimana banyak batang “terlihat” berseliweran dimana-mana dan terlihat saling overlapping (jika dilihat secara 3D). Jika kita hanya mengandalkan kemampuan mata dalam upaya untuk mencari batang yang berwarna merah (warna batang yang fail), hal ini tidak akan efektif dan juga tidak bisa diandalkan karena kemungkinan terjadinya human error sangat besar.

Sekian untuk tulisan di penghujung bulan ini.. :-) Lagi2 mepet terus ya.. :-D

CMIIW….

Kamis, 31 Oktober 2013

Salah Satu Kegunaan “Interactive Database Editing” di Sap2000

 

Ketika mengoreksi sebuah laporan struktur, adakalanya kita dibuat bingung oleh input beban yang dihitung secara kumulatif dan diberi nama dengan satu nama yang sama. Misalnya, beban mati grating, handrail, mesin, dsb, diberi nama dengan nama yang sama yaitu (misalnya) = DL (beban Dead Load).

Secara teoritis, hal ini tentu saja tidak salah asalkan hasil penjumlahan dari beban-beban tersebut benar atau sesuai. Namun ada kalanya kita sebagai pihak pemeriksa dapat cukup direpotkan dengan model assign beban semacam ini, yaitu kita tidak bisa langsung memberi penilaian bahwa input beban yang diberikan sudah benar atau belum sebelum memeriksa hasil penjumlahannya secara manual / dituntut ketelitian. Ini menjadi pekerjaan yang menyulitkan ketika beban2 yang dijadikan menjadi satu nama ini cukup banyak. Selain menyulitkan, secara laporan juga akan menjadi tidak baik, karena ketika beban ini di-capture (untuk penyajian laporan), beban yang ingin kita perlihatkan menjadi bercampur aduk dengan beban2 lainnya.

Apalagi dengan menyatunya beban2 tersebut, kita tidak dapat dengan mudah melihat dan menganalisa perilaku dan reaksi struktur terhadap masing-masing beban. Contohnya ketika seorang engineer dibuat heran dengan reaksi gaya joint (tumpuan) suatu struktur bangunan ketika sedang berupaya untuk mendesain pondasi dimana nilai yang diberikan oleh si perancang struktur atas (seorang structure engineer) nilainya bisa dikatakan sangat besar alias ekstrim. Jika beban2 yang ada dijadikan menjadi satu nama (untuk tipe beban tertentu), akan sulit untuk mengidentifikasi beban mana yang berpengaruh besar terhadap “bengkak”-nya nilai reaksi gaya pada tumpuan. Jika nilai gaya joint reaction ini diikuti maka dipastikan akan menghasilkan pondasi yang sangat kokoh dan terpercaya. :-)

Selain akan berpengaruh terhadap volume dan biaya pondasi, “kehebatan” pondasi ini juga akan menjadi pertanyaan konsultan (dan juga orang awam lainnya). Jika konsultan tidak cukup jeli, maka yang akan menjadi kambing hitam biasanya adalah si engineer yang bertugas menghitung pondasinya (bukan structure engineer-nya).

Bengkaknya reaksi gaya ini bisa saja terjadi. Karena kadang kala, karena ingin bermain sangat aman (mungkin disebabkan karena data beban mesin yang ada masih belum pasti / data beban estimasi), seorang structure engineer menginput beban secara berlebihan (dikalikan dengan faktor pengali yang cukup besar). Apalagi jika seorang konsultan juga tidak mempermasalahkan beban berlebihan ini karena efek cost dari struktur atas akan menjadi tanggung jawab kontraktor, bukan owner. Namun di satu sisi ternyata berdasarkan kontrak, penyediaan tiang pancang akan menjadi tanggung jawab owner.. Nah lho.. <:-)

Kesimpulannya, metode penamaan input beban ini menurut saya penting untuk diperhatikan dari awal desain struktur atas. Karena pada situasi tertentu, kita ingin mengetahui beban mana yang berkontribusi besar terhadap besarnya nilai lendutan, stress ratio suatu batang, dan juga reaksi gaya aksial, gaya geser, maupun gaya momen pada tumpuan suatu struktur. Dengan beban yang sudah dipisahkan berdasarkan namanya masing-masing, upaya-upaya untuk memahami perilaku dan reaksi struktur terhadap tiap beban yang dikenakan akan dapat dengan mudah dilakukan. Selain itu jika terjadi kejanggalan pun akan dapat dengan mudah diidentifikasi dan juga dapat dengan mudah pula diperbaiki / direvisi. Jadi, keuntungan memisahkan tiap beban berdasarkan namanya masing-masing saya kira cukup banyak.

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur memberi nama menjadi satu seperti itu, mas?

Untungnya, Sap2000 memiliki tool bermanfaat yang bernama “Interactive Database Editing” (selanjutnya akan saya singkat menjadi IDE). Dengan IDE, banyak hal yang berkaitan dengan proses editing (pengeditan) dapat kita lakukan dengan mudah dan cepat, tanpa perlu mengklik dan membuka banyak window berkali-kali.

Contoh kasusnya adalah nampak seperti beban struktur di bawah:

2013-10-31_212727

Perhatikan, semua beban di atas (baik beban titik maupun beban merata) saya namakan sebagai beban DL. Semua jenis beban nampak campur aduk dengan beban lainnya. Jika penampakannya seperti di atas, tentu kita akan bertanya mana yang menjadi beban A, mana yang menjadi beban B, mana yang menjadi beban C, dst. Ini hanya contoh struktur yang kecil. Jika strukturnya besar dan lebih kompleks, tentu saja akan lebih membingungkan.

Lalu bagaimana memperbaikinya, mas?

Sebelumnya, struktur di atas hanya terdiri dari dua buah nama beban seperti di bawah:

2013-10-31_210257

Untuk memperbaikinya, pertama-tama, kita buat terlebih dahulu nama-nama beban berdasarkan jenis bebannya masing-masing. Sebagai contoh, saya hanya akan menggunakan nama beban dengan nama huruf (untuk mempermudah saja), seperti Beban A, Beban B, dst.

2013-10-31_213611

Dimana nantinya:

Beban A = 2 kN/m (beban terbagi rata)

Beban B = 3.5 kN/m

Beban C = 1.5 kN/m

Beban D = 5 kN (beban titik)

Beban E = 25 kN

Beban F = 30 kN

Setelah itu, pilih / select semua batang struktur, kemudian klik Edit -> Interactive Database Editing.., maka akan keluar window sebagai berikut:

2013-10-31_212956

Selanjutnya centang kotak “Frame Load Assignment” (karena semua beban diinput sebagai beban frame, termasuk untuk beban titiknya. Jika beban diinput sebagai beban joint, maka kotak “Joint Load Assignment” juga perlu dicentang).

2013-10-31_213653

Apabila kita ingin memfokuskan pada beban tertentu saja, maka kita bisa hanya menampilkan beban tertentu dengan menonaktifkan beban lainnya pada kotak “Select Load case” yang berada pada sisi kanan atas.

2013-10-31_213808

Pada kasus ini, semua beban aktif (semua beban terpilih). Lalu, klik OK. Maka akan keluar window seperti di bawah. (Dalam window ini terdapat dua item tipe beban yang ditampilkan secara terpisah, yaitu “Frame Loads – Distributed” (untuk beban merata frame) dan “Frame Loads – Point” (untuk beban titik frame)).

2013-10-31_214035

2013-10-31_214054

Ok, beban yang ada pada frame sudah ditampilkan, selanjutnya kita bisa mengeditnya dengan dua cara:

1. Edit secara langsung pada window IDE itu sendiri, atau

2. Edit di program excel dengan cara mengklik tombol “To Excel” yang berada pada bagian kanan tengah. Data-data yang ditampilkan nantinya akan ditampilkan pada excel.

Karena data beban yang akan diedit cukup sedikit, maka akan lebih efektif jika kita mengeditnya secara langsung pada window IDE. Caranya sama ketika kita mengedit di excel, cukup diketikkan saja nama beban yang sudah kita buat disesuaikan dengan nilai beban yang sudah direncanakan.

2013-10-31_220252

Untuk beban merata juga prosesnya sama, tinggal ketikkan namanya ataupun angkanya jika kita ingin merubah besar bebannya. Khusus untuk beban merata di lantai dua (5 kN/m) adalah penjumlahan dari Beban B (3.5 kN/m) dan Beban C (1.5 kN/m).

Selanjutnya, klik “Apply to Model” dan “Done”. Selesai. Mudah, bukan? :-)

Jika terjadi kesalahan penulisan nama beban, Sap2000 akan memberikan warning. Misalnya saya ubah Beban E menjadi Beban ER (beban ini belum pernah saya buat / belum terdefinisi):

2013-10-31_223010

Ketika saya klik “Aplly to Model”, maka akan keluar warning seperti berikut:

2013-10-31_221333

Maka pastikan warning seperti di atas tidak keluar.

Berikut adalah tampak salah satu contoh “Beban D” yang sudah berhasil dipisahkan dari beban DL:

2013-10-31_222910

Beban sudah berdiri sendiri, terlihat jelas dan indah.. he2.. Kalau sudah begini, engineer senang, konsultan pun juga ikut senang.. :-)

Semoga bermanfaat.. CMIIW…