Jumat, 27 September 2013

Verifikasi Output Penulangan Geser Balok Beton Sap2000

 

Pada tulisan yang lalu kita sudah berhasil melakukan proses verifikasi output penulangan lentur balok Sap2000 dengan hitungan manual. Sekarang saatnya mencoba memverifikasi output penulangan geser/sengkang Sap2000. :-)

Banyak yang mengira bahwa tegangan geser yang terjadi pada penampang melintang suatu balok adalah sama besarnya di tiap titik penampang. Contohnya seperti berikut: Jika sebuah balok persegi berukuran b (lebar) x h (tinggi) = 300 mm x 400 mm diberi beban geser sebesar 100 kN, maka tegangan geser penampang yang kita peroleh menurut perhitungan sederhana adalah sebesar: 100 kN/ (300 mm x 400 mm) = 833.33 kN/m = 0.833 MPa.

Tapi apakah itu benar?

Tegangan geser sebesar 0.833 MPa ini sebenarnya adalah tegangan geser rata-rata, bukan tegangan geser aktual. Tegangan geser aktual (untuk balok penampang persegi ini) memiliki bentuk parabola dimana pada sumbu netral balok akan terjadi tegangan geser maksimum, sedangkan pada serat sisi terluar (baik sisi atas maupun bawah balok) akan terjadi tegangan geser minimum (0 MPa), alias tidak ada tegangan geser yang terjadi. Jika digambarkan, maka bentuk tegangan geser aktualnya adalah seperti gambar berikut:

image

Diagram tegangan geser diatas menunjukkan bahwa tegangan geser maksimum terjadi tepat pada tengah badan/web, ini menjawab pertanyaan kenapa retak geser dimulai pada daerah tengah balok, berbeda dengan retak lentur yg dimulai dari tepi balok. Untuk mengerti kenapa diagram gaya geser membentuk bentuk parabola semacam gambar di atas dapat dipelajari dengan memahami tegangan geser horizontal yg terjadi pada balok akibat beban lentur. Pemahaman tegangan geser horizontal akibat beban lentur ini juga penting untuk memahami perilaku struktur komposit.

Lalu bagaimana cara menghitung tegangan geser aktual tersebut? Untuk menghitung besarnya tegangan geser aktual suatu penampang dapat dihitung dengan rumus sederhana sebagai berikut:

2013-09-26_235104

Dimana: v = tegangan geser, V = gaya geser, Q = momen statis dari bagian penampang di atas potongan horizontal yang sedang ditinjau, I = momen inersia penampang, dan b = lebar penampang balok.

Sedangkan untuk mencari nilai tegangan geser maksimum dapat diketahui dengan memberikan nilai Q maksimum pada rumus di atas. Penurunan rumus tegangan geser maksimum dengan memasukkan nilai Q maksimum pada rumus tegangan geser di atas adalah sebagai berikut:

2013-09-26_145007

Nampak pada hasil penurunan rumus di atas, besarnya tegangan geser maksimum adalah sebesar 3/2 kali tegangan geser rata-rata. Bagaimana dengan tegangan geser yang dihitung oleh Sap2000? Apakah menggunakan tegangan geser rata2 atau tegangan geser aktual? Akan kita cari jawabannya di bawah.

Sekarang mari kita mulai proses verifikasi penulangan geser balok Sap2000 dengan hitungan manual. Sebagai benda uji coba masih kita gunakan balok yg sama, yaitu balok B300.400 agar konsisten dengan hitungan pengecekan tulangan lentur di tulisan yang lalu. Perbedaannya di tulisan ini, saya merubah struktur balok menjadi struktur kantilever sepanjang 2 m. Sedangkan untuk properti bahan yang dipakai juga masih sama, yaitu: kuat tekan beton fc’ = 30 MPa, fy = 400 MPa (tegangan leleh tulangan lentur) , dan fys = 240 MPa (tegangan leleh tulangan sengkang). Bentuk permodelan pada Sap2000 dapat dilihat pada gambar di bawah:

2013-09-26_084740

Sebelum kita lanjut memberikan pembebanan yg “efektif” pada balok di atas, kita perlu menganalisis beban-beban kritis yg dapat memberikan petunjuk apakah Sap2000 benar-benar mengikuti aturan/syarat2 penulangan sesuai peraturan beton (SNI) atau tidak.

Pertama-tama kita perlu mengetahui variabel penentu kekuatan geser suatu balok beton. Berdasarkan SNI Beton (dan juga rumus umum yg kita dapatkan pada bangku kuliah), kekuatan geser beton ditentukan oleh dua hal, yaitu kekuatan geser beton itu sendiri dan ditambah dengan kuat geser dari tulangan geser (sengkang). Maka kuat geser nominal total suatu struktur balok bertulang dapat diekspresikan dengan rumus berikut:

2013-09-25_223957

Dimana: Vn = kuat geser nominal total, Vc = kuat geser nominal beton, Vs = kuat geser nominal sengkang.

Sedangkan untuk kuat geser ijin beton, rumus di atas perlu dikalikan dengan faktor reduksi untuk kuat geser sebesar ø = 0.75 (sesuai SNI 03-2847-2002 Pasal 11.3.(3)) dan nilainya minimal harus sama dengan atau lebih besar dari gaya geser ultimate yang terjadi:

2013-09-26_135414

Dari rumus di atas, rumus kuat geser beton (Vc) untuk struktur yang mengalami “gaya lentur dan geser saja” (tanpa gaya aksial) adalah sebagai berikut (sesuai SNI 03-2847-2002 Pasal 13.3.(2).1):

2013-07-31_115047

Dimana: fc’ = kuat tekan beton silinder umur 28 hari, bw = lebar balok, d = tinggi efektif balok.

Sedangkan untuk struktur kolom yang memikul beban aksial (tekan maupun tarik) yang cukup besar (lebih dari 0,1.fc’.Ag), rumus di atas kurang ideal karena tidak memperhitungkan pengaruh beban aksial terhadap kekuatan geser beton. Intinya adalah, gaya tekan akan menyebabkan kekuatan geser meningkat, sedangkan gaya tarik akan menyebabkan kekuatan geser menurun. Fenomena ini dapat kita pahami dengan cara menekan tumpukan uang logam seperti gambar di bawah dan memberinya beban geser:

2013-07-31_160135

Hasilnya, tumpukan logam yang diberi tekanan aksial akan lebih sulit untuk berdeformasi terhadap beban geser dibandingkan dengan tumpukan uang logam yang tanpa diberi beban aksial sama sekali.

Sedangkan untuk rumus kuat geser nominal sengkang (Vs) yang arahnya tegak lurus sumbu aksial (dipasang vertikal tanpa kemiringan) adalah sebagai berikut:

2013-09-26_112655

Dimana: Av = luas tulangan geser, fy = kuat leleh tulangan sengkang, d = tinggi efektif balok, dan s = jarak antar sengkang. Perhatikan bahwa rumus d/s adalah menunjukkan jumlah sengkang.

Bagaimana dengan pengaruh beban momen terhadap kekuatan geser?

Selain beban aksial tarik, momen lentur ternyata juga dapat mengurangi kemampuan balok dalam menahan geser. Kenapa? Hal ini terjadi karena faktor retak penampang beton (akibat beban lentur) yang dapat mengakibatkan luas efektif penampang geser menjadi berkurang. Maka untuk memperhitungkan kuat tahanan geser beton yang dipengaruhi oleh beban lentur ini dapat menggunakan rumus berikut (sesuai SNI 03-2847-2002 Pasal 13.3.(2).1):

2013-07-31_114859

Dimana: ρw = rasio luas tulangan terpasang, Vu = gaya geser ultimate, Mu = gaya momen ultimate, bw = lebar balok, d = tinggi efektif balok.

Namun nilai Vc di atas dibatasi tidak boleh lebih dari:

2013-07-31_114943

Dan persyaratan lainnya adalah:

2013-07-31_115256

Lalu, apakah Sap2000 memperhitungkan pengaruh dari gaya momen ini dalam menentukan kuat geser beton?.. Nanti akan kita cek juga.

Selain itu, seperti halnya tulangan lentur, tulangan geser juga memiliki nilai luasan tulangan maksimum dan minimum. Luas tulangan geser minimum dapat dicari dengan rumus berikut (sesuai SNI 03-2847-2002 Pasal 13.5.(5).3):

2013-07-31_144859

Dan nilai di atas dibatasi tidak boleh kurang dari:

2013-08-01_144737

Lalu, kapan luas tulangan geser minimum ini perlu dipasang pada balok? Berdasarkan peraturan (SNI 03-2847-2002 Pasal 13.5.(5).1) disebutkan bahwa luas tulangan geser minimum perlu diberikan jika gaya geser ultimate balok (Vu) melebihi nilai 0.5(øVc).

Dan selanjutnya yang penting untuk dipahami, penggunaan tulangan geser (Vs) memiliki batas, alias kita tidak bisa memasang tulangan geser sebanyak mungkin (tanpa hingga) pada suatu dimensi balok tertentu. Ada suatu kondisi dimana ketika nilai kuat geser sengkang yang terpasang melebihi nilai tulangan geser maksimum, maka dimensi balok perlu diperbesar. Menurut SNI 03-2847-2002 Pasal 13.5.(6).9, nilai kuat geser sengkang maksimum tersebut ditentukan dengan rumus berikut:

2013-09-26_113234

Karena nilai Vs maksimum sudah dapat kita tentukan (Vs maks = 2/3 √fc’ x bw x d), maka selanjutnya dapat kita peroleh rumus praktis untuk menentukan gaya geser ultimate yang dapat dipikul oleh balok berdimensi b x h.  Penurunannya adalah sebagai berikut:

2013-09-26_142426

Ok, rumus-rumus penting untuk menghitung kuat geser beton bertulang sudah disampaikan di atas. Menariknya adalah Sap2000 menghasilkan output tulangan geser dalam bentuk satuan mm2/mm. Dengan kata lain, Sap2000 tidak mau ambil pusing untuk menentukan jarak spasi antar sengkang. Sedangkan kita perlu memberikan informasi penulangan sengkang pada hasil desain berupa: jumlah kaki sengkang, diameter sengkang, dan jarak antar sengkang yang biasa disimbolkan dalam bentuk: 2 Ø 10 – 150 mm (yang berarti diperlukan pemasangan sengkang dua kaki berdiameter 10 mm dengan jarak antar sengkang dari pusat ke pusat sebesar 150 mm).

Lalu bagaimana dong? Tenang, ini hal yang mudah. Di bawah akan saya tunjukkan bagaimana mentransformasi hasil output penulangan sengkang Sap2000 menjadi bentuk yang lazim kita kenal.

Terkait dengan batasan desain oleh peraturan SNI (pada program Sap2000 ini diwakili oleh peraturan ACI 388-99), berikut adalah pertanyaan2 yang akan dijawab pada proses verifikasi tulangan geser kali ini:

1 . Apakah Sap2000 memperhitungkan pengaruh momen lentur dalam menentukan kuat geser beton?

2 . Apakah Sap2000 akan memberikan tulangan geser untuk gaya geser yang kurang dari 0.5(øVc)?

3 . Apakah Sap2000 memberikan luas tulangan minimum untuk gaya geser > 0.5øVc?

4 . Apakah Sap2000 membatasi nilai tulangan geser maksimum sebesar 2/3 x √fc x bw x d? Dan apa yang dilakukan oleh Sap2000 ketika nilai Vs melebihi nilai maksimum ini?

Mari kita peroleh jawaban untuk pertanyaan 1:

Mula2, kita kenakan beban titik terpusat sebesar 50 kN sebagai beban mati pada ujung bentang balok. Beban mati sendiri balok akan saya abaikan (yaitu dengan memberikan nilai ”self weight multiplier = 0” pada load case bersangkutan).

2013-09-26_152825

Sehingga reaksi gaya yang dihasilkan pada ujung bentang terkekang adalah sebesar: Mu = 1.4 x 50 kN x 2 m = 140 kN.m

2013-09-26_152928

Sedangkan dihasilkan nilai Vu adalah sebesar: Vu = 1.4 x 50 kN = 70 kN (merata sepanjang balok)

2013-09-26_153335

Oya, sebelum berjalan lebih jauh, pastikan faktor reduksi untuk kuat lentur dan kuat geser dalam Sap2000 disesuaikan dengan nilai faktor reduksi SNI Beton kita:

2013-09-26_153426

Dan jangan lupa juga untuk merubah tipe struktur menjadi “Sway Ordinary”, atau dalam bahasa SNI kita adalah sama dengan SRPMB (Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa), karena secara default (program determined), Sap2000 akan menghitung struktur dengan sistem “Sway Special” / SRPMK (Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus). Tentu saja perbedaan tipe sistem ini akan menyebabkan output penulangan yang berbeda juga.

2013-09-26_153553

Setelah melakukan proses analysis gaya dan desain penulangan, maka dihasilkan tulangan lentur balok seperti di bawah:

2013-09-26_153705

Dan dengan meng-klik kanan batang balok tersebut, dapat kita peroleh data yg lebih detail dari hasil proses analysis dan desain. Berikut adalah beberapa data yg dapat diperoleh dari penulangan lentur:

2013-09-26_154025

Dan berikut adalah beberapa data yg didapat dari penulangan geser:

2013-09-26_153926

Terlihat bahwa hasil perhitungan Sap2000 untuk kuat geser ijin beton B300.400 adalah sebesar 69.584 kN.

Sekarang mari kita bandingkan dengan perhitungan manual. Pada perhitungan manual ini, akan saya coba lakukan perhitungan 3 beban titik terpusat pada ujung bentang yang memiliki nilai berbeda (12 kN, 50 kN, dan 85 kN) untuk melihat pengaruhnya terhadap kuat geser beton. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

2013-09-26_155734

2013-09-26_165538

2013-10-07_143800

Berdasarkan hasil kalkulasi di atas, dapat terlihat bahwa kuat geser beton yang dihasilkan oleh Sap2000 ternyata tidak memperhitungkan pengaruh dari adanya gaya momen (terlihat dari output nilai kuat geser ijin beton Sap2000 (øVc sap = 69.584 kN) lebih mendekati nilai kuat geser ijin beton hasil hitungan manual tanpa memperhitungkan gaya momen (øVc = 69.835 kN)).

Dan kesimpulan lainnya yang menarik adalah, dengan membandingkan kuat geser beton yang dihasilkan dari 3 beban yang berbeda (øVc rev), terlihat bahwa dengan semakin besarnya gaya momen yang timbul ternyata akan memperbesar nilai kuat geser beton. Menarik bukan. :-) Berdasarkan penjelasan dari buku, hal ini terjadi lebih disebabkan karena semakin kecilnya retak beton yang terjadi seiring banyaknya tulangan lentur yang terpasang akibat meningkatnya gaya momen.

Bagaimana dengan tegangan gesernya?

Kita sudah membahas tegangan geser pada pembukaan tulisan ini, walaupun nilai tegangan geser ini tidak ada pengaruhnya dalam perhitungan tulangan sengkang, tapi tidak ada salahnya jika kita memeriksan dan membandingkan dengan perhitungan manual.

Langsung saja, Sap2000 memberikan output nilai tegangan geser sebagai berikut:

2013-09-26_171531

Tegangan geser yang terjadi akibat beban Vu adalah sebesar 686.275 kN/m2, kapasitas tegangan geser beton = 682.199 kN/m2, dan tegangan geser maksimum yg dapat dipikul oleh balok beton bertulang berdimensi 300 mm x 400 mm adalah 4547.997 kN/m2.

Sedangkan berdasarkan perhitungan manual, tegangan geser yang didapatkan adalah sebagai berikut:

2013-09-26_171726

Berdasarkan hasil perhitungan di atas terlihat bahwa tegangan geser yang dihasilkan oleh Sap2000 (686.275 kN/m2) diperoleh dari rumus tegangan geser rata-rata, bukan rumus tegangan geser aktual.

Lanjut, kita jawab pertanyaan ke 2: Apakah Sap2000 akan memberikan tulangan geser untuk balok dengan gaya geser yang nilainya kurang dari 0.5(øVc)?

Pada perhitungan di atas, sudah kita dapatkan besarnya kuat geser ijin beton (øVc) sebesar 69.584 kN. Berdasarkan data tersebut dapat kita peroleh nilai 0.5(øVc) = 0.5 (69.584 kN) = 34.792 kN. Sehingga untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas, nilai beban titik terpusat yang perlu diberikan pada struktur balok harus lebih kecil dari 34.792 kN / 1.4 = 24.851 kN. Pada permodelan Sap2000 akan kita berikan beban titik terpusat sebesar 23 kN ( < 24.851 kN)

2013-09-26_173616

Sehingga hasil desain tulangan gesernya adalah sebagai berikut:

2013-09-26_174130

Ya, terbukti Sap2000 tidak akan memberikan tulangan sengkang pada balok yang menerima gaya geser kurang dari 0.5(øVc).

Lanjut, kita jawab pertanyaan ke 3: Apakah Sap2000 akan memberikan tulangan geser minimum untuk gaya geser yang nilainya lebih besar dari 0.5(øVc)?

Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas, nilai beban titik terpusat yang perlu diberikan pada struktur balok harus lebih besar dari 24.851 kN. Selanjutnya, pada permodelan Sap2000 akan kita berikan beban titik terpusat sebesar 26 kN ( > 24.851 kN)

2013-09-26_210322

Berdasarkan beban di atas, maka diperoleh hasil penulangan geser sebagai berikut:

2013-09-26_210418

Sap2000 memberikan hasil ouput penulangan geser sebesar 0.431 mm2/mm. Sebentar, apakah nilai tulangan yang dihasilkan dalam satuan mm2/mm oleh Sap2000 di atas sama nilainya dengan luasan tulangan geser minimum sesuai rumus yang kita ketahui?.. Bagaimana cara mengeceknya jika satuannya mm2/mm begitu?

Mudah saja. Sebenarnya satuan mm2/mm didapatkan dari hasil pembagian antara luas tulangan geser yang dibutuhkan dengan spasi antar tulangan geser = Vs / s. Penurunan rumusnya adalah sebagai berikut (catatan: s = sp = spasi sengkang):

2013-09-26_211140

Maka berdasarkan kalkulasi manual, didapatkan nilai besar luas tulangan geser minimum dengan satuan mm2/mm adalah sebagai berikut:

2013-09-26_211448

Walaupun hasilnya sedikit berbeda, namun hasil kalkulasi di atas dapat membuktikan bahwa Sap2000 memang memberikan nilai tulangan geser minimum untuk gaya geser ultimate yang nilainya lebih besar dari 0.5(øVc). Tulangan geser minimum ini akan tetap konstan digunakan oleh Sap2000 selama gaya geser Vu belum melebihi nilai (øVc + øVs min).

Selanjutnya kita cek kuat geser ijin tulangan sengkang (øVs) minimum hasil output Sap2000 dengan perhitungan manual. Berdasarkan hasil perhitungan Sap2000, diperoleh nilai øVs sebagai berikut:

2013-09-26_214338

Sedangkan dengan hitungan manual (dengan menggunakan nilai Av/s hasil Sap2000 = 0.431 mm^2/mm), diperoleh nilai øVs sebagai berikut:

2013-09-26_214802

Lalu bagaimana cara mentransformasi hasil output penulangan geser Sap2000 di atas agar dapat dibaca dengan mudah oleh pekerja di lapangan? Caranya adalah sebagai berikut:

2013-10-07_142409

Cara di atas juga dapat dilakukan untuk nilai Vs > 0 kN.

Selanjutnya, kita jawab pertanyaan ke 4: Apakah Sap2000 membatasi nilai kuat tulangan geser maksimum sebesar 2/3 x √fc’ x bw x d? Dan apa yang dilakukan oleh Sap2000 ketika nilai Vs melebihi nilai maksimum ini?

Untuk menjawabnya, perlu kita cari besar beban geser maksimum yg akan menyebabkan kondisi ini. Gaya geser maksimum dapat kita peroleh dengan rumus Vu = 0.625 x (√fc’ x bw x d) (silahkan lihat ke atas kembali untuk mengetahui asal rumusnya). Maka, berdasarkan perhitungan manual, beban mati (DL) yang dapat menyebabkan balok di ambang kondisi geser maksimum adalah sebagai berikut:

2013-09-26_231125

Berdasarkan data di atas, akan kita berikan beban titik terpusat sebesar 251 kN ( > 249.409 kN) pada balok permodelan Sap2000:

2013-09-26_231618

Berdasarkan beban di atas, maka diperoleh hasil penulangan geser sebagai berikut:

2013-09-26_231741

2013-09-26_235038

Hasilnya adalah Sap2000 akan memberikan warning/peringatan dengan simbol tulisan O/S = Over Stress. Dan terlihat juga Sap2000 sama sekali tidak menampilkan jumlah luas tulangan geser yang diperlukan (Rebar Area = 0 mm2). Bagaimana solusinya? Seperti yang sebelumnya telah disebutkan di atas, solusi yang paling efektif adalah dengan memperbesar dimensi balok.

Sekian untuk tulisan kali ini. Untuk tulisan selanjutnya akan kita coba verifikasi output penulangan torsi balok. Seperti kita ketahui, output penulangan torsi akan menghasilkan output berupa tulangan lentur dan tulangan geser. Sap2000 menyajikan tiap tulangan ini secara terpisah. Yang menjadi pertanyaan, apakah hasil ketiga tulangan ini dijumlahkan atau diambil yang terbesar? Tunggu tulisan selanjutnya.. :-) Semoga berguna.. CMIIW..

Sabtu, 31 Agustus 2013

METODE PENGAJARAN YANG BAIK

 

(Under Construction)

Lagi-lagi.. Sudah tanggal 31 Agustus tapi belum ada satu artikel-pun yang terposting.. Alias belum ada satu pun artikel yang terpublish di blog sederhana ini di bulan Agustus 2013.. <:-) Yah, beginilah kalau mood menulis terhambat dengan kemampuan berpikir otak yang sedang lagi down.. Entah kenapa dalam beberapa minggu belakangan ini saya memang sukar sekali untuk menuangkan ide pikiran ke dalam bentuk sebuah tulisan. Ide sebenarnya sudah ada, tapi ketika akan dituangkan dalam sebuah tulisan, kok sepertinya susah.. Entahlah, tidak seperti biasanya.. Padahal saya sudah menyiapkan dua tulisan tentang “pengecekan tulangan sengkang beton Sap2000” dan tulisan tentang “perjalanan mudik lebaran dengan menggunakan Google Maps” di awal bulan Agustus ini.. Namun nampaknya kedua tulisan tersebut harus saya pending dahulu agar tidak mengecewakan pembaca iseng blog ini..

Oleh karena itu sebagai gantinya saya akan memposting sebuah tulisan yang pernah saya buat di “Catatan Facebook” saya. Saya pikir isi tulisan tersebut bakal berguna bagi siapa saja, terutama bagi tenaga pendidik seperti dosen atau guru, ataupun siapa saja yang memiliki minat untuk men-transfer ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Tentunya ilmu di sini bukan bangsanya ilmu macan mengaum lo ya.. He2..

Tulisan ini memang sudah lama, namun karena saya mempostingnya di Facebook, pastinya tidak banyak orang yang akan menemukan dan membacanya kecuali teman-teman saya sendiri atau seseorang yang kebetulan ingin “mengintip” profil Facebook saya.. He2.. Sok ge’er amat yak.. Padahal apa yang mau diintip.. :-D

Walaupun begitu saya tetap tidak akan menyajikannya sama persis seperti catatan yang diposting di Facebook saya itu. Tentu harus ada perbaikan agar memiliki nilai lebih. Selain itupun dulu ketika saya menulis catatan tersebut juga dalam kondisi yang santai, alias tidak terlalu serius. Intinya yang penting ide tersampaikan (mungkin begitu dulu pikiran saya). Sehingga tidak heran jika hasilnya pun lumayan berantakan. He2.. Kalau sekarang masih mau diposting lagi di sini? Ya harus ada perbaikan. Masak udah copy paste tapi isinya masih gitu-gitu aja.. Malu dong sama mbok Darmi.. he2..

Oke kalau begitu langsung saja ya, berikut tulisannya:

METODE PENGAJARAN YANG BAIK

Saya yakin semua orang yang pernah makan di atas meja dan kursi pendidikan pernah merasa sulit memahami suatu penjelasan entah itu dari seorang guru/dosen atau dari sebuah buku-buku pelajaran. Lalu jika pernah, siapa yang biasanya anda salahkan? Diri anda sendiri? Ataukah sang pengajar itu sendiri (termasuk menyalahkan penulis buku yang anda baca)? Atau bahkan pembantu anda sendiri yang anda salahkan? Jika hal tersebut ditanyakan kepada diri sendiri, maka kebanyakan dari kita akan menyalahkan diri sendiri dalam menyikapi permasalahan ini. Tentu saja sikap ini sebenarnya sikap yang baik, karena efek positif dari sikap ini adalah kita akan terpacu untuk berjuang melawan rintangan yang ada. Kita akan berusaha intropeksi ke dalam untuk mencari kekurangan yang ada di dalam diri kita. Entah berhasil atau tidak, itu masalah nomor dua.. Di sini terkesan kita menerima segala sesuatu apa adanya. Apakah yang kita terima itu sudah baik atau belum, kita tidak ambil pusing. Namun, di luar itu ternyata ada hal penting yang sering kita lupakan, yaitu bersikap kritis terhadap sesuatu yang menjadi sumber penjelasan ilmu tersebut. Contohnya seperti mengkritisi metode pengajaran seorang guru/dosen ataupun metode penjelasan seorang penulis dalam sebuah buku pelajaran. Ingat, yang dikritisi adalah metode pengajarannya, bukan ilmunya itu sendiri.

Tidak dapat dipungkiri, menjadi pengajar yang baik bukanlah perkara yang mudah. Banyak hal yang harus dipahami dan dikuasai untuk dapat menjelaskan suatu ilmu secara baik kepada orang lain. Pada tulisan ini saya akan melihat permasalahan ini dari sudut pandang pribadi sebagai pihak yang pernah mendapatkan pengajaran, baik dari seorang tenaga pengajar (seorang guru/dosen) ataupun dari buku2 tertulis.

Kebetulan saya suka memburu buku-buku Teknik Sipil, terutama untuk buku yang membahas struktur bangunan. Ya bagaimana tidak, saya bekerja di bidang ini, maka otomatis saya perlu/harus memiliki banyak buku sebagai referensi penyelesaian berbagai masalah yang ada. Dan dari banyak buku teknik sipil yang saya miliki, hanya ada beberapa buku yang sangat saya sukai karena penjelasan (bahasa) nya yang sangat mudah dipahami dan penyajiannya yang menarik (disertai ilustrasi yang simpel namun baik dan penjelasan terhadap hal-hal kecil (konsep dasar) yang menarik dan penting untuk dipahami). Jujur, saya mendapatkan banyak pencerahan dari buku ini. Buku ini semakin menyadarkan saya bahwa sebenarnya tidak ada ilmu yang sulit untuk dipahami. Namun ketika suatu ilmu menjadi sulit dipahami saya pikir hal itu terjadi salah satunya karena metode pengajarannya yang kurang baik. Dilematisnya, buku-buku bermutu itu kebetulan semuanya adalah buku terjemahan, alias buku luar negeri yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Tentu saja penulisnya adalah orang luar (bukan orang kita). Dan fakta berkata, buku-buku luar negeri memang jauh lebih berbobot isinya. Contoh simpelnya? Ya silahkan saja bandingkan SNI Baja kita dengan AISC. Bahkan Pak Wiryanto Dewobroto sendiri mengakui hal tersebut dan pernah mengulas soal “kemiskinan” SNI Baja kita.

Menariknya, di Jepang bahkan ada institusi yang bergerak di bidang penerjemahan buku. Dan menurut pengalaman orang yang pernah tinggal di Jepang, buku terjemahan ini harganya lebih murah daripada harga buku bahasa aslinya. Tidak heran kenapa iptek di negara Jepang bisa maju, mungkin karena hal ini juga. Dan ini juga menjawab kenapa walaupun banyak orang Jepang tidak bisa berbahasa inggris, namun secara iptek mereka dapat menjadi sama/lebih baik. Sistem pendidikan di Indonesia perlu meniru apa yang dilakukan oleh Jepang ini jika ingin bangsa kita lebih maju. Kita harus menyadari kekurangan dan berupaya mengejarnya dengan cara yang efektif dan cerdas, bukannya malah berlomba untuk menyaingi negara-negara maju di atas Sumber Daya Manusia yang masih lemah. Apa susahnya menyediakan APBN beberapa puluh milyar hanya untuk menggaji orang-orang pintar yang mampu menterjemahkan buku-buku iptek dengan baik? .

Oke, lalu bagaimana cara menjelaskan sesuatu dengan baik? Berikut adalah 7 hal penting menurut analisa saya guna tercapainya pengajaran yang baik:

1. Bahasa

Walaupun kita semua selalu menggunakan bahasa indonesia setiap hari, namun belum tentu bahasa yang kita gunakan sudah baik dan benar. Bayangkan jika seseorang tidak memiliki kemampuan bahasa yang baik, tentunya kita akan sulit menangkap apa yang ingin diutarakan olehnya. Penguasaan bahasa yang baik adalah hal utama yang harus dimiliki untuk dapat menjelaskan sesuatu secara baik pula. Hal ini kita pelajari sedari kecil melalui pelajaran Bahasa Indonesia, seperti sistem SPOK, penggunaan tanda baca titik koma, dll. Penulis yang cerdas akan membuat permasalahan yang sulit dipahami menjadi mudah dipahami, bukan kebalikannya.

2. Logika

Untuk memahami sesuatu, mutlak unsur logika harus terpenuhi. Segala penjelasan harus masuk akal dan dapat dipahami benang merah antar unsur yang terkait serta memiliki keteraturan yang sistematis. Ilmu eksak tanpa logika adalah mustahil, karena dasar dari segala ilmu eksak adalah logika.

3. Analogi

Ini yang sering dilupakan. Analogi adalah hal penting yang membantu kita berlogika dengan baik. Logika tanpa analogi akan menjadikan suatu ilmu menjadi momok yang menakutkan. Analogi ibarat kunci yang berfungsi membuka pintu yang sukar dibuka. Jangan lupakan memberikan analogi yang tepat dalam menjelaskan sesuatu hal yang awalnya terkesan abstrak. Analogi dapat membantu kita memahami sisanya tanpa bantuan penjelasan sama sekali, itulah hebatnya penjelasan disertai dengan analogi.

4. Visualisasi

Bandingkan antara membaca komik dengan membaca buku pelajaran yang isinya hanya tulisan saja tanpa ada gambar sama sekali. Manakah yang lebih menarik? Pasti lebih menarik komik. :-) Selain dapat membuat isi buku menjadi menarik, bantuan visualisasi juga dapat membantu memahami sesuatu menjadi jauh lebih cepat dan lebih baik, jadi jangan lupakan bantuan visualisasi dalam menyampaikan sesuatu agar lebih mudah dipahami.

5. Fallacy (Kesalahan)

Ini juga sering dilupakan. Memahami kesalahan2 atau poin2 penting yang dapat berakibat besar terjadinya suatu kesalahan juga adalah salah satu cara memahami sesuatu dengan baik. Ada kalanya kita terlena dalam mempelajari sesuatu karena kita belum dapat merasakan betapa pentingnya hal2 kecil yang kita anggap remeh yang dapat berakibat menjadi kesalahan fatal. Hanya orang2 yang berpengalaman yang dapat memberikan petunjuk poin2 penting / rambu2 untuk diperhatikan, karena mereka telah belajar dari kesalahan. Tentunya kesalahan2 yang telah terjadi tidak perlu diulang kembali, jika tidak demikian, maka ilmu akan berjalan ditempat karena setiap orang akan melakukan kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari.

6. History (Sejarah)

Jangan samakan sejarah yang saya maksud dengan buku2 ilmu sejarah waktu kita sekolah di bangku smp dan sma..  sejarah yang saya maksud  adalah sejarah yang benar2  menceritakan  proses terciptanya suatu ilmu dari  A  sampai Z, baik sisi kegagalan maupun keberhasilannya. Banyak sejarah2 penting  tentang kegagalan tidak sampai pada telinga kita.Yang kita dengar hanya si A penemu ini, Si B penemu itu, dll. seolah-olah  mereka dapat berhasil tanpa  melalui  perjuangan panjang  dan keras  serta kegagalan. Bahkan secara tidak sadar, kita menganggap apa yang mereka lakukan tidak mungkin dicapai sama sekali oleh kita, karena mereka kita anggap sebagai manusia setengah dewa yang diberi kelebihan  khusus oleh Tuhan. Padahal  jika kita mau memahami proses yang terjadi dibaliknya, mereka juga manusia biasa seperti kita yang  juga mengalami kesulitan dan kegagalan. Yang membedakan kita dengan mereka adalah kultur  budayanya. Kebudayaan mereka adalah berpikir, sedangkan kebudayaan kita kebanyakan adalah hanya " berzikir" (berdoa).

7. Practical

Maksud saya adalah hal2 praktis. Banyak penjelasan di buku2 ilmu eksak (tulisan lokal) yang tidak memberikan informasi tentang hal2 praktis yang berhubungan dengannya. Padahal hal-hal praktis adalah hal2 yang sering ditanyakan oleh orang2 awam ketika menyikapi suatu permasalahan. Terdengar sepele, namun jika kita luput untuk memperhatikan, maka siap2 saja kita dianggap tidak kompeten, walaupun sebenarnya hal2 praktis tersebut bukanlah hal yang esensial untuk dipermasalahkan.

(Under Construction)

Jumat, 05 Juli 2013

Nama Saya Disebut Pada Judul Tulisan Pak Wiryanto Dewobroto

 

“Buset, nama saya terpampang dengan “vulgar” pada judul tulisan terbaru Pak Wiryanto! Wow!!”

He2.. Ya, kaget bercampur rasa penasaran yang pastinya. Dan tidak menyangka juga… :-) Penasaran, apa yang mendasari sosok sekelas Pak Wir membuat judul tulisan yang menjadikan nama saya pada salah satu judul tulisannya secara terang-terangan, tanpa tedeng aling. He2. Inilah yang saya rasakan dulu ketika pada Desember tahun 2010, Pak Wiryanto Dewobroto, salah satu dosen ahli ilmu struktur UPH (Universitas Pelita Harapan) yang terkenal di dunia maya (maupun nyata), memposting satu tulisan yang berjudul “tanggapan Untuk Made Pande”.

2013-07-04_202522

Selain kaget, terselip rasa bangga juga ternyata.. :-) Kenapa? Karena yang menulis tulisan bukanlah orang sembarangan, khususnya di dunia sipil. Beliau bisa dikatakan satu-satunya dosen (bergelar Doktor) Teknik Sipil di Indonesia yang sangat aktif di dunia maya yang rutin membuat tulisan-tulisan bermutu terkait dengan ilmu teknik sipil (terutama ilmu struktur bangunan). Penjelasan yang beliau paparkan bisa dikatakan sangat (kalau dalam bahasa komputer) “user-friendly”, sehingga saya banyak mendapatkan pencerahan tentang ilmu sipil dari tulisan-tulisan beliau. Beliau juga salah satu penulis buku-buku ilmu sipil bermutu yang mana bukunya selalu habis dimakan “rayap2 sipil”. :-) So, rasa bangga yang saya rasakan nampaknya bukan tanpa alasan yang kuat.. :-)

Dan tidak hanya itu saja, alasan beliau hingga membuat tulisan yang khusus untuk membahas ide pemikiran yang pernah saya sampaikan pada salah satu tulisannya adalah juga karena alasan yang tidak sepele. Kenapa? Itu karena apa yang saya tuliskan ternyata telah berhasil menjadi bahan pemikiran beliau. Seperti apa yang Pak Wiryanto katakan di bawah:

2013-07-04_203027

Tapi sayangnya topik yang dibahas bukanlah tentang ilmu sipil. He2.. Yah, cing cai lah.. :-) Yang terpenting dari suatu pemikiran tidak hanya isi pikiran, tetapi juga pola pikir-nya (yang bisa menghasilkan isi/ide pikiran yg unik). Isinya bisa saja tentang topik apa saja, tapi pola pikir yang berbeda pasti akan menghasilkan ide pemikiran yang berbeda. Mungkin ini yang menjadi suatu hal yang sangat menarik bagi Pak Wir. Nampaknya beliau (dalam kasus ini) belum pernah menemukan isi pemikiran yang pernah saya utarakan pada komentar di salah satu tulisannya. Mungkin pemikiran saya tentang topik itu bisa dikatakan agak nyeleneh, alias berlawanan dengan arus pemikiran mainstream.

Apa sih yang dibahas, mas?

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari apa yang pernah saya sampaikan pada salah satu komentar di tulisan beliau. Mungkin beliau baru kali itu mendapatkan komentar yang agak kontroversial yang berkaitan dengan “agama”. Ya, bisa dikatakan topiknya agak “berbahaya”. Tapi sebenarnya topik utamanya bukanlah soal agama. Topik utamanya adalah soal kondisi negara kita (NKRI) yang bermasalah, seperti banyaknya korupsi, pembangunan yang tidak merata, peradaban yang kalah maju dan “beradab” dibandingkan dengan negara2 lain, dsb. Pada tulisan beliau, Pak Wir melihat fakta dengan mata kepala sendiri bahwa peradaban bangsa Indonesia bisa dikatakan sudah tertinggal jauh dengan peradaban negara-negara tetangga (apalagi dengan negara Eropa, Jepang, Amerika, dll). Lengkapnya, silahkan baca di sini.

Loh kok bisa sampe ke agama, mas?

Yah, sekali lagi, setiap orang bebas berpendapat. Asalkan pendapatnya tidak ngawur dan tidak berusaha untuk menyudutkan suatu golongan atau pribadi tertentu. Pendapat yang saya utarakan terkait dengan “agama” di salah satu tulisan beliau saya rasa masih dalam batas kewajaran. Artinya, tidak ngawur dan tidak berusaha menyudutkan suatu golongan agama tertentu. Di sana justru saya lebih menekankan akan pentingnya pendidikan “budi pekerti”. Menjadi kontroversi karena saya mengkaitkan/membandingkannya dengan (pendidikan) agama.

Sengaja ya mas?

He2.. Kena deh.. :-) Bisa dikatakan begitu.. Kenapa? Karena ada esensi penting di dalamnya yang perlu/baik untuk dipahami oleh semua orang. Itu karena, sekarang ini banyak orang yang (saya katakan) “mabuk” agama namun orang tersebut tidak menyadarinya. Dimana-mana, yang namanya mabuk itu pasti memiliki efek samping negatif. Saat ini pun, “wajah” agama tidak lagi menjadi sesuatu yang “mendamaikan”, tapi justru berpotensi untuk merusak harmoni kehidupan dan rentan dimanfaatkan oleh sekelompok orang-orang tertentu untuk meraih keuntungan pribadi dan golongan.

Secara tidak disadari, agama dapat menciptakan penyakit kepribadian seperti berikut:

a. Merasa paling benar dan yang lain adalah salah. (Sumber pertengkaran)

b. Tidak berupaya secara kritis untuk memahami fenomena kehidupan, karena segala sesuatu yang dianggap di luar nalar manusia dianggap sebagai suatu kuasa Tuhan yang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia. (Berhenti bertanya: Kenapa begini? Kenapa begitu? Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? dsb)

c. Sukar untuk membuka diri dan menerima perbedaan pemahaman. (Bertentangan dengan teori ilmiah yang bisa direvisi kapan saja jika ditemukan bukti2 baru)

d. Memandang rendah orang lain hanya karena perbedaan agama (diskriminasi sosial)

e. Berbuat kebaikan karena ancaman neraka dan iming2 surga. (bertindak baik tidak didasari oleh hati nurani)

Ada yg mau menambahkan? :-)

Pasti ada efek positifnya juga dong mas?

Ya, tentu saja ada. Selain efek negatif, efek positifnya tentu saja ada, dan mungkin lebih banyak lagi. Contohnya, bagi beberapa orang yang belum bisa mengontrol hidupnya dengan baik, agama bagaikan sabuk pengaman yang mampu menjaga dirinya agar tidak terjerumus pada jurang kegelapan/kejahatan. Bahkan agama juga mampu memberikan semangat hidup (dan kepercayaan-diri) bagi orang-orang yang hidupnya kurang beruntung (entah terlahir cacat, miskin, dll.).

Jadi, poin-poin negatif yang saya sebutkan di atas adalah efek negatif yang akan dialami oleh seseorang jika seseorang beragama tanpa mengedepankan akal sehatnya dengan baik. Sehingga, yang terpenting bagi saya adalah bukan pada agamanya, namun bagaimana akal sehatnya mampu mengendalikan dirinya untuk tetap bertindak bijaksana serta dapat menghasilkan kebajikan untuk sesama manusia tanpa memandang “kulit” seseorang. Akal yang sehat/baik akan membawa kita pada pemahaman yang baik pula terhadap kehidupan, melakukan dan tidak melakukan sesuatu bukan semata-mata karena dogma agama semata, namun karena pemahamannya terhadap hukum kehidupan (pemahaman bagaimana dunia berjalan berdasarkan fakta/realita).

Loh? Memangnya ada pemahaman agama yang tidak berdasarkan realita, mas?

Banyak. :-) Contohnya: Anggapan bahwa bencana alam disebabkan karena dosa manusia. Benarkah demikian? Bagi saya tidak. Cara membuktikannya? Simpel. Perhatikan dengan baik, tempat prostitusi “Gang Dolly” di Surabaya yang juga adalah salah satu pusat prostitusi terbesar di Asia. Bisa dikatakan di sana adalah pusatnya “dosa seksual”. Sampai sekarang, adakah lokalisasi Gang Dolly luluh lantak akibat gempa ataupun bencana alam lainnya? Tidak. Juga Las Vegas yang katanya adalah kota judi dunia hingga dijuluki sebagai “Sins City”. Sampai sekarang masih aman2 saja berdiri dan beroperasi. Lalu, Kota Bangkok dan Pattaya yang terkenal dengan penduduk waria-nya, negara Belanda dengan pelegalan pernikahan sesama jenisnya, dll. Sesuatu yang dianggap dosa oleh agama, justru pada realitanya terhindar dari serangan bencana alam. Jadi, masih masuk akal-kah anggapan bahwa bencana alam terjadi adalah akibat dosa manusia? Menurut akal sehat saya berdasarkan realita yang ada adalah tidak.

Ya ya ya… Iya juga ya.. Apa ada lagi mas?

Saya katakan, banyak. Contoh lainnya mungkin tidak semua orang akan siap menerima/ mendengarnya. Cukup yang siap saja yang tahu. :-)

Lalu hubungannya dengan pendidikan budi pekerti apa ya mas?

Ya jelas. Mandegnya perkembangan peradaban manusia adalah berkaitan dengan berkembangnya efek2 negatif yang saya sebutkan di atas. Jika pada pendidikan agama selain membawa efek positif juga dapat membawa efek negatif, namun berbeda dengan pendidikan budi pekerti. Bisa dikatakan efek negatif dari pendidikan budi pekerti itu tidak ada. Pendidikan budi pekerti murni mengajarkan nilai2 kebaikan (yang dirangkum dari semua ajaran agama yang ada). Dan dapat diajarkan serta berlaku kepada semua orang tanpa memandang agamanya apa, dsb. Pendidikan budi pekerti murni mengajarkan etika dan moral/akhlak yang berlandaskan nilai2 kemanusiaan, kesetaraan, serta keadilan. Sehingga, dapat majunya peradaban manusia adalah ketika hilangnya efek2 negatif yang telah saya sebutkan di atas. Untuk tulisan pendukung tentang hal ini, di bawah saya berikan contoh tulisan dari orang lain.

2013-07-04_225727

Tulisan pada blog kompasiana tersebut ditulis pada tanggal 26 Agustus 2012. Sedangkan saya menuangkan ide pemikiran ini di blognya Pak Wiryanto pada tanggal 20 Desember 2010. Jadi, bisa dikatakan saya tidak menjiplak ide pemikiran tulisan di atas ya. :-)

Lalu apakah ada contoh negara maju yang masyarakatnya tidak mementingkan agama, mas?

Ada. Contohnya adalah negara Jepang. Mayoritas penduduk negara Jepang adalah tidak beragama. Namun mereka memiliki tuntunan hidup berupa ajaran etika dan budi pekerti yang diajarkan secara turun-temurun. Untuk mengenal lebih jauh tentang kebudayaan Jepang, anda bisa membacanya di blog menarik berikut:

2013-07-05_001608

Kembali lagi pada tulisannya Pak Wiryanto yang menyinggung nama saya. Sayangnya saya tidak menanggapi tulisan Pak Wiryanto dengan cepat. Malah bisa dikatakan sangat lambat sekali. Ada kira-kira setahun lamanya saya baru menanggapi tulisan Pak Wiryanto (pada komennya). Sungguh keterlaluan memang.. <:-) Maafkan saya ya, pak.. Mungkin itu yang menyebabkan komen saya tidak dibalas/ tidak ditanggapi oleh Pak Wir. Atau bisa jadi Pak Wir tidak ingin berpolemik lebih jauh tentang topik tersebut. Tidak apa-apa, saya bisa memakluminya. :-) Namun terlepas dari itu semua, saya mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mencantumkan nama saya pada judul tulisan bapak. Adalah suatu kebanggaan bagi saya untuk bisa hadir dalam sejarah list judul tulisan blog bapak. :-)

2013-07-05_003534